Waktunya.com, sering muncul berita tentang akan datangnya bencana dahsyat dibumi ini, yaitu badai matahari. Apa itu badai matahari ? badai matahari adalah fenomena alam yang terjadi pada matahari ketika terlemparnya proton dan elektron akibat aktifitas magnetik matahari. Akibat dari aktifitas magnetik tersebut adalah gelombang magnetiknya yang mengarah ke bumi menghalangi sinyal-sinyal komunikasi. Dan tentunya seluruh alat komunikasi yang menggunakan sinyal elektromagnetik pada saat itu tidak dapat berfungsi dengan baik.
Menurut Sri Kaloka (Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN), badai matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare adalah ledakan besar di atmosfir matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 km/detik. Badai matahari dahsyat pernah terjadi pada pagi 1 september 1859. diberitakan bahwa pada pagi hari tepatnya 1 September 1859, salah seorang astronom terkenal di Inggris Richard Carrington tengah mengamati matahari. Dengan menggunakan alat filter dia mempelajari permukaan matahari melalui teleskopnya . namun, dia begitu terperanjat saat mengetahui ada kilatan cahaya terang keluar dari permukaan matahari. Tanpa diketahuinya pada hari itu telah terjadi badai matahari yang diprediksikan dunia akan terulang kembali pada 1 September 2012. melansir pemberitaan Daily Mail, Selasa (21/4) dikisahkan Carrington mencatat titik cahaya terang yang merupakan awan plasma menuju ke bumi. Sekitar 48 jam kemudian dampaknya mulai terasa luar biasa. Miliaran aurora menyinari langit malam di bumu. Cahayanya sungguh kuat sehingga membuat kita mampu membaca ditengah malam.
Sementara itu, di California, sekelompok pekerja tambang emas bangun lebih awal dari biasanya akibat cahaya terang yang mereka sangka hari sudah pagi. Padahal jam pada saat itu masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Sejumlah operator telegraf menerima kejutan listrik tak beraturan akibat arus listrik matahari menghantam jaringan telekomunikasi. Saat itu dunia seakan-akan bermandikan listrik. Dampak dari adanya badai matahari ini akan menyebabkan kemungkinan rusaknya atau terganggunya satelit. Akibatnya antara lain gangguan telepon, siaran TV yang memanfaatkan satelit, jaringan ATM. Gangguan ionosfer juga berakibat pada gangguan siaran radio gelombang pendek (HF). Transformator listrik di negara-negara dekat kutub juga rentan terkena induksi yang bisa mematikan jaringan listrik dalam wilayah yang luas (seperti pernah terjadi pada 1989di Kanada). Tanpa listrik, dunia bisa mengalami masa kegelapan . pasokan air bersih yang menggunakan listrik akan terhenti, komunikasi global akan rusak. Badai matahari juga bisa merusak jaringan GPS satelit yang semua penerbangan tergantung padanya. Saat badai itu menuju bumi, akan diawali aurora paling spektakuler. Namun dalam beberapa waktu kemudian, cahaya akan mencapai daratan dan listrik mulai padam. Selanjutnya semua jaringan telepon dan internet akan terputus, begitu juga TV terestrial dan satelit hilang sinyal.
Lalu apakah akan terjadi Kiamat..?,
Menurut Pakar Antariksa dari LAPAN, Dr. Thomas Djamaludin, badai matahari merupakan bagian dari cuaca di bumi, hanya saja sifatnya berbeda. Ia menjelaskan, badai matahari tidak berdampak langsung pada manusia, namun tetap berdampak pada benda-benda astronomi yang berada disekitarnya. Gangguan yang perlu dicermati menurut dia, hanya pada sistem teknologi yang ditempatkan di antariksa seperti satelit komunikasi dan navigasi serta sistem teknologi di bumi yang rentan terhadap induksi partikel energetik dari matahari yang masuk ke bumi lewat kutub. Bagaimana di Indonesia? Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap badai matahari yang diprediksikan terjadi 2012, karena dampaknya terkait dengan cuaca maupun iklim di Indonesia tidak signifikan. Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Toni Agus Wijaya, Rabu, mengatakan bahwa apalagi kita tinggal di dekat khatulistiwa dan berdekatan dengan samudera yang luas, maka tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan terkena dampak dari badai matahari itu, seperti kemarau panjang dan ketersediaan pangan dan air bersih.
Dikutip dari DS NYUS edisi perdana minggu I, Agustus 2009.